Wednesday, 6 May 2015

So, it's you, Daddy

Untuk seseorang yang disebut Ayah di sebuah rumah sederhana. Seorang anak yang beranjak dewasa kemudian menyadarinya..
It's you, Daddy...
Yang bekerja keras demi keluarganya
Yang bijak dalam mengambil keputusan demi kebaikan keluarganya
Yang rela menjadi supir pribadi anggota keluarga kecilnya
Yang memperlakukan istrinya dengan lembut
Yang mau berbagi ranjang dengan ibu dari anak-anaknya
yang merawat 1x24 jam dikala anak-anaknya kurang enak badan
Yang menemani anaknya mengerjakan tugas hingga larut malam
Yang percaya anaknya mampu melakukan tindakan “menguji adrenalin”
Yang rela lembur untuk mendapatkan uang tambahan agar dapat membelikan kado untuk anaknya
Yang mau berbagi makanan kesukaan dengan anaknya
Yang mau membagi jatah cuti demi liburan bersama keluarga atau sekedar duduk makan di rumah bersama
Yang memberikan contoh bagi anak lelakinya untuk mampu memperlakukan saudara/teman perempuannya dengan sopan
Yang menunjukkan kepada anak perempuannya bahwa tidak semua lelaki itu sama karena ada satu lelaki yang mampu mencintai perempuannya dengan lembut seperti dirinya
Yang selalu siaga bagi anak perempuannya ketika diganggu teman lelaki
Yang tidak lelah untuk mendoakan keluarganya di sela-sela jam makan siang
Yang rela meminjamkan bahu bagi semua anggota keluarganya yang sedih
Yang menjadi instruktur olahraga
Yang berinisiatif untuk memperbaiki genteng yang bocor, saklar yang rusak, bahkan lampu yang padam
Yang bisa diajak ke toko buku hanya untuk menemani anak-anak membeli ataupun sekedar membaca buku
Yang memberikan surprise saat hari spesial
Yang rela disebut “jahat” oleh anak-anaknya ketika tidak diijinkan untuk melakukan sesuatu yang menurutnya tidak pantas untuk dilakukan

Yang tidak pernah lupa mengingatkan “tetaplah kasihi ibumu, walaupun ia sedikit bawel”

Monday, 27 April 2015

Stranger: could be your Friend or Enemy

Saya sangat mengingat salah satu wejangan orang tua yang hingga kini masih saya pegang, yaitu "Jangan coba-coba menerima pemberian oleh seseorang yang baru kamu kenal ataupun yang baru kamu kenal". Wejangan itu hingga detik saya menulis cerita ini masih saya pegang, namun benak saya masih tetap bertanya apakah wejangan tersebut benar adanya?

Setiap hari kita akan bertemu dengan orang-orang yang baru. Tidak menutup kemungkinan juga bahwa orang yang bertegur sapa dengan kita pertama kali adalah jodoh kita (walaupun probabilitasnya adalah 0,999999%). Saya terkadang menjadi anak yang apatis dan tidak mau membuka diri dengan orang yang baru, tak hayal sering dipanggil sebagai seseorang yang angkuh. Sebutan itu sudah sering saya dengar, jadi saya tidak lagi menghiraukan hal itu.

Demi menjaga diri saya dari seorang yang dinamakan STRANGER, orang tua saya melakukan beberapa cara untuk melindungi saya. Seperti tidak boleh bepergian kemanapun tanpa ada orang tua/keluarga yang menemani, harus ada teman yang sudah lama saya kenal, dan tak jarang pun saya benar-benar tidak diizinkan untuk pergi kemanapun dengan alasan KEAMANAN.

Melihat tingkah laku yang seperti itu, saya mulai prihatin dengan sikap dari orang tua saya. Berbagai cara saya lakukan. Mulai dari mengikuti berbagai perlombaan mulai dari kancah daerah hingga internasional hanya dengan sebuah tujuan: Memiliki banyak teman, mengunjungi banyak tempat dan mengobservasi sendiri maksud dari STRANGER sesungguhnya.

Well, dunia ternyata tidak sesempit apa yang dipikirkan namun tidak sebaik yang dibayangkan. Mengenal orang lain pada awalnya terlihat baik. Memiliki banyak teman terlihat asik. Namun menerima dan mengerti perasaan orang lain itu sulit. Ketika yang ditemukan dari seorang STRANGER sifat baiknya lebih besar daripada sifat buruknya, maka saya akan lebih memilih untuk berteman dengan dia dan berlaku juga sebaliknya. Ketika yang ditemukan pada diri STRANGER adalah sifat buruk, maka saya akan memilih untuk menjauh atau bahkan memusuhinya.

Namun, bagaimana jika bertemu dengan STRANGER di media sosial, dimana kita tidak bisa mengamati keseluruhan sikap dari orang tersebut? apakah wajar jika hanya menilai dari satu segi saja yaitu cerita yang ia beberkan? Tentu kita harus berhati-hati dengan hal itu. 

Nilailah seorang stranger dari seluru segi di dalam hidupnya. Kita tidak tahu pasti sejauh mana penilaian orang lain terhadap kita sebagai seorang STRANGER.